07 Agustus 2008

Demam Berdarah


Awal bulan Juni 2008 yang lalu, Khayra terpaksa harus diopname di RS Pondok Indah (RSPI), karena kena 'Demam Berdarah' (DB). Awalnya Khayra demam, naik turun. Mulai Kamis, 29 Juni. Kemudian turun keeseokan harinya, begitu terus. Kalo lagi panas tinggi saya cuma kasih obat penurun panas. Sabtu pagi, kami bawa periksa ke dokter anak. Kebetulan dokter Hari Martono yg biasa nanganin Khayra, sudah 'full'. Terpaksa ke dokter anak yg 'available' aja, yaitu dokter Prayogo. Diagnosis dokter, Khayra terkena radang tenggorokan. Saya bingung, dia sama sekali gak batuk, walaupun dokternya bilang tenggorokannya mulai merah. Dan diresepkan anti biotik. 'Feeling' saya, Khayra gak radang tenggorokan, jadi anti biotik tidak saya berikan. Hari Minggu pagi Khayra sudah mulai ceria dan main sama anak tetangga saya, Nabila (kecil). Kekhawatiran saya berkurang. Tapi menjelang sore, anak ini rewel sekali, maunya minta digendong terus. Sampai2 saya kehilangan kesabaran (pdhal mungkin dia sudah pusing sekali ya kepalanya - maafin mama ya nak). Sementara si Mba' pengasuh Khayra juga demam, saya suruh ke dokter dan istirahat, cuti saja. Malam harinya, ada bintik2 merah di kaki Khayra, tapi suhu badannya sudah normal. Saya pikir mungkin campak atau roseola (gabagen, kata orang Jawa). Hari Senin-nya ibu saya datang ke rumah dan bintik2 kecil merah mulai banyak di kedua kaki Khayra. Ibu saya minta saya membawa Khayra ke UGD siang itu juga. Lalu, kami bawa ke UGD dan minta ke suster jaga-nya agar bisa diperiksa dokter Hari Martono, tapi ternyata si dokter sudah mau pulang dan kami harus menemui dokter anak yg lagi prakter dan 'available' hari itu. Lalu saya ke poli anak di RSPI dan minta agar Khayra bisa diperiksa oleh dokter Hari Martono. Apa jawaban yang saya dapatkan?? "dokter Hari sudah mau pulang bu. Saya gak berani tanya". Wah2..gak berani?? kalo pasiennya kenapa2 bagaimana? Lalu, gak berapa lama suami saya datang dan tanya..saya jelaskan situasinya. Dan kami tanya lagi ke susternya. Kali ini suster yg berbeda. Dan untungnya si suster ini mau menanyakan ke dokter Hari. Dan kami disuruh balik ke UGD karena dokter Hari akan menunggu disana. Alhamdulillaah. Sesampainya di UGD, dokter sudah ada dan langsung memeriksa Khayra yg sudah mulai menangis. Setelah diberitahu kalo sudah 5 hari naik turun panas, dokter kaget, kok bisa2nya gak dibawa ke dokter. Saya jelaskan kalo Sabtu kemaren, sudah dibawa ke dokter Prayogo, karena pasien dokter Hari sudah penuh. Akhirnya Khayra harus diambil darah, test lab. Dokter memberikan pilihan, mau pulang dulu atau langsung dirawat. Kami pilih dirawat saja, karena ada Raya di rumah, kalo campak, takutnya malah ketularan. Khayra harus diambil darah dan diinfus. Masya Allah.., percaya atau tidak, anak sekecil ini harus dipegangi 4 orang untuk diambil darah dan diinfus. Jeritan tangisnya sampai terdengar di seluruh ruangan UGD. Rambut Oma-nya dijambak, saya ditendang2. Akhirnya gak berapa lama, berhasil juga 2 suster memasukkan jarum infusnya. Sambil menunggu kamar, Khayra yg masih terisak2 digendong Oma-nya, dan didorong dg kursi roda. Oma-nya duduk di kursi roda sambil menggendong Khayra. Sesampainya di kamar, Khayra tetap gak mau lepas dari pangkuan Oma. Masih terisak2. Gak berapa lama, dia sudah tersenyum sambil memandangi infus-nya. Kami bujuk untuk makan, setelah sebelumnya ditawarkan menu makan sore oleh RS. Akhirnya menjelang malam, saya pulang, karena si bungsu Raya saya tinggal dg Mba' yang bener2 baru (baru masuk hari Senin pagi). Untungnya anak bungsu saya ini 'baik' dan gak rewel, spt tau kalo kakaknya lagi sakit. Baru sampai di rumah, papa saya yg dari siang menemani Raya, lagi duduk di kursi makan, dan hp saya bunyi. Telp dari mama saya yg mengabari kalo Khayra positif kena DB. Astaghfirullah, saya sempet kaget, tapi mama saya menenangkan saya dan bilang kalo trombosit Khayra 91.000. Ya Allah, sembuhkanlah Khayra (doa saya dalam hati). Tak lama, papa dan si mba' yg memang pulang hari, meninggalkan rumah. Tinggal saya sendiri dan Raya. Entah kenapa, Raya yg biasanya jam segini udah tidur, masih segar bugar dan ceria sekali. Mungkin karena jarang main hanya b2 mama-nya ya. Saya bawa ke kamar dan saya main b2. Baru setelah jam 9 dia ngantuk dan saya tidurkan. Gak lama suami saya kembali dari kantor.

Keesokan harinya, pagi2, sesudah menyiapkan bubur untuk Raya, saya ke rumah sakit dg membawa 'mba' baru. Si mba' ini 'hobby' nyanyi. Taunya? krn sewaktu di mobil, dia menyanyi2 tanpa malu2 waktu mendengarkan lagu 'wonder woman'nya Mulan Jameela dari radio (ck..ck..ck..). Sesampainya di RS, saya mendapati Khayra sedang jalan2 di dlm kamar. Alhamdulillaah Khayra mau disuapi makan oleh si mba' penyanyi ini. hehe. Ternyata pagi tadi, Khayra sudah diambil darah lagi. Gak lama, kakak ipar saya datang. Sementara itu, mama saya pamit pulang untuk mandi dll. Gantian saya yg jaga Khayra. Siang harinya kakak saya, Dinne datang dan membawa makanan untuk kami. Khayra sudah mulai ceria. Sore hari mama saya datang, sedang papa saya ke rumah saya untuk menemani Raya. Menjelang magrib, karena papa saya ada keperluan, saya harus pulang. Sewaktu saya pulang, kakak2 ipar saya dan anak2nya menjenguk, juga kel. Pak Nelson, tetangga saya. Wah rame deh pokoknya.

Sesampainya di rumah, papa saya sudah pulang, dan si mba' saya suruh pulang jg. Tinggal saya dan Raya di rumah. Kembali, Raya belum mau bobo' dan ajak saya main di temp tidur. Jam 9 lewat baru dia ngantuk, minum susu dan bobo'. Anak ini memang baik sekali.

Hari ke-3 di rumah sakit. Khayra sudah gak bisa diam. Maunya naik kereta dan jalan2 di koridor. Sesekali ke tempat bermain anak di lantai itu. Tapi saya usahakan gak berlama2, karena takutnya ada anak yg bisa menularkan penyakit (namanya rumah sakit). Siang2..saya minta bocoran ke suster, berapa trombosit Khayra, ternyata belum keluar hasilnya. Tapi menjelang sore, suster kasih tau, kalo trombosit Khayra masih di 91.000. Biasanya kecenderungannya naik. Insya Allah. Tapi yg bikin saya agak was2. Khayra susah sekali disuruh minum dan makan. Ya harus pelan2 memang, dibujuk. Saya akalin dia untuk minum angkak, yg dibawain bu Linda, tetangga saya. Anak ini paling susah disuruh minum minuman yg punya rasa dan berwarna. Untungnya angkak tidak berasa, tapi berwarna. Jadi saya akali dg memakai tempat minum yg tidak transparan. Dan sedikit demi sedikit, angkak diminumnya. Hari ini, atas saran suami, saya lah yg menjaga dan tidur di rumah sakit. Suami jg tentunya. Oma-nya biar pulang dan istirahat. Setelah saya pulang sebentar menengok Raya, saya kembali ke rumah sakit. Ternyata di kamar sudah banyak yg jenguk. Ada mas Irman dan istri (yg bawain 'tiara'), Pak Ragil, mba' Ani dan Ryan (salah satu abang favorit Khayra yang bawain boneka 'Barney') Khayra sudah mulai segar, tadi pagi sudah diambil darah. Gak lama, Icha teman suami saya datang dan kasih minuman, yg katanya bisa menaikkan trombosit. Saya bersyukur, begitu banyak kerabat yg sangat perhatian pada kami, termasuk boss, saya, Pak Sandjaja, yg selalu tanya perkembangan Khayra, via sms. Semoga Allah SWT membalas kebaikan mereka. Gak lama ngobrol, dan oma dan kakak saya, Indri pulang, saya tertidur bersama Khayra, sedangkan suami saya tidur di sofa bed. Pagi2nya, Kamis, 5 Juni 2008, Khayra diambil darah lagi dan gak lama dokter pun memeriksanya. Dokter Hari bilang, kalo trombositnya di atas 100.000, Khayra boleh pulang, insya Allah. Mama saya pun datang, lalu gak berapa lama hasil test lab keluar. Trombosit Khayra naik menjadi 150.000. Alhamdulillaah. Siap2lah kami untuk 'check-out'. Setelah mengurus administrasi dan pembayaran RS, kami pulang. Untuk hari ini, dan besok, rencananya kami 'ngungsi' dulu di rumah ortu saya. Minggu depan, Khayra, harus balik ke dokter untuk kontrol. Mudah2an Khayra gak perlu diopname2 lagi ya. Dan jangan sampai hal itu terjadi sama Raya juga. Insya Allah. Aamiin.

Tidak ada komentar: